Literasi Tentang Sampah, Membangun Karakter Bangsa

2034 views

Gubernur NTT menginpeksi kegiatan “Sabtu Bersih” di Taman Wisata Gua Monyet Alak (Foto: Dok. Ist)

“Dilarang membuang sampah di sini!” Sebuah kalimat imperatif ditujukan kepada siapa saja. Kalimat ini ada di sudut-sudut jalan, pesisir pantai, tanah lapang atau titik tertentu di  jalur jalan umum.  Larangan   sangat tegas maksudnya tetapi masyarakat sering melalaikannya. Alhasil, “tanda larangan membuang sampah”  hanya sekedar  ‘rambu-rambu’  penegas bahwa kita sungguh-sungguh peduli sampah, kenyataannya tidak demikian.

Watak Kolektif Masyarakat

Dampak larangan pembuangan sampah tidak bergerak linearistis dengan perubahan pola perilaku masyarakat. Makin hari, makin banyak tumpukan sampah di lokasi-lokasi  yang bukan tempat sampah. Hari ini sampah dibersihkan, besok muncul lagi sampah baru dan begitu seterusnya.

Rendahnya kesadaran manusia terhadap sampah tumbuh menjadi pola hidup negatif yang membentuk watak individu. Watak individu serupa membentuk watak koletif  masyarakat yang apatis dengan lingkungan. Mereka beranggapan persoalan sampah menjadi urusan dan tanggung jawab pemerintah. Padahal, urusan sampah adalah urusan bersama. Karena kita berpijak dan hidup di bumi yang sama, maka kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaganya.

Darurat Sampah

Sampah menjadi momok yang menakutkan.  Indonesia  masuk dalam kondisi darurat sampah. Dalam catatan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Indonesia menempati posisi kedua setelah Tiongkok sebagai negara penghasil sampah plastik yang dibuang ke laut.  Estimasi sampah yang dibuang ke laut mencapai 4,8 – 12,7 juta ton plastik per tahun. Dari total tersebut, sampah darat memberi kontribusi sebanyak 80 persen (Pos-Kupang.Com, 11/06/2018).

Tirto.id (20/02/2018) melansir data  Badan Pusat Statistik (2016), Pulau Jawa memproduksi sampah tertinggi di Indonesia. Surabaya, pada tahun 2015 menghasilkan 9.475,21 meter kubik (2015), naik 235,1 meter kubik menjadi  9.710,61  meter kubik pada tahun berikutnya. Sedangkan di luar Pulau Jawa,  Mamuju sebagai penghasil sampah tertinggi, yakni  7.383 meter kubik dan diikuti  Makassar, sebesar 5.931,4 meter kubik .

Peningkatan produksi sampah di kota-kota ditimbulkan oleh kepadatan penduduk. Semakin banyak penduduk semakin banyak sampah yang dihasilkan. Selain kepadatan penduduk, peningkatan  produksi sampah ini dikarenakan pertumbuhan industri di berbagai kota. Selain itu, tingginya produksi sampah, ternyata tidak diimbangi dengan volume sampah yang terangkut.

Data BPS dikutip Tirto.id (20/02/2018) melaporkan  dari 30 ibukota provinsi, rata-rata capaian keterangkutannya hanya 71,20 persen dari total produksi sampah. Kota Denpasar  dengan tingkat keterangkutan sampah terbesar di Indonesia, yaitu 97,47 persen dari 3.719 meter kubik sampah yang dihasilkan. Kota Mamuju memiliki tingkat keterangkutan sampah terendah, yaitu 2,82 persen saja dari 7.383 meter kubik sampah yang dihasilkan. Sementara tingkat keterangkutan sampah di Kota Kupang mencapai 76,95 %, terbaik keempat setelah Denpasar, Banjarmasin dan DKI Jakarta.

Sampah di NTT

Dari data dan statistik di atas menunjukkan sampah merupakan persoalan yang sangat serius. Diperlukan penanganan yang cepat dari pemerintah dan didukung oleh perubahan perilaku masyarakat. Produksi sampah di kota-kota seluruh Provinsi NTT memang tak sebanding dengan kota lain di Pulau Jawa. Namun, kondisi terkini semakin mengkhawatirkan dengan dirilisnya hasil penilaian Program Adipura periode 2017-2018. Penilaian Program Adipura ini terdiri-dari dua kategori, yakni kota terbersih dan kota terkotor, dari 369 kabupaten/kota yang dinilai, NTT menyumbang tiga kota kecil sebagai kota terkotor, yakni Waikabubak, Ruteng  dan Bajawa (Detik.com, 14/01/2019).

Educendi per exemplum

Jauh sebelum publikasi penilaian Program Adipura tahun 2018, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat telah mengajak masyarakat untuk memerangi sampah. Sehari setelah dilantik oleh presiden Jokowi, ia mengancam dan memberikan sanksi kepada masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

Pernyataan Gubernur NTT sangat beralasan. Masalah sampah merupakan salah satu faktor yang dapat menghambat terwujudnya visi “NTT Bangkit NTT Sejahtera” yang mana salah satu misinya adalah pembangunan pariwisata sebagai penggerak utama (prime mover) pembangunan. Dimana pariwisata sangat berhubungan erat dengan kenyaman dan keamanan yang ditunjangi oleh lingkungan yang bersih.

Gubernur NTT dalam berbagai kesempatan senantiasa mengingatkan masyarakat untuk menertibkan sampah dan membeberkan keterhubungannya dengan prospek pariwisata NTT kedepan. Ia mengajak masyarakat memulai dengan tertib membuang sampah pada tempatnya untuk mengubah wajah NTT sebagai New Tourism Territory. Tak ada gunanya bila NTT memiliki alam yang indah apabila sampah berserakan dimana-mana.

Tak berhenti di situ, Gubernur NTT memerintah setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemerintah Provinsi NTT untuk menjaga kebersihan di lingkungan masing-masing. Terbaru, ia dan Wakil Gubernur, Josef A. Nae Soi memimpin langsung gerakan “Sabtu Bersih” bersama seluruh ASN Pemerintah Provinsi NTT membersihkan sampah di area publik seperti Taman Wisata Gua Monyet Alak dan Pantai Lasiana (Sabtu, 19/01/2018). Di tempat terpisah, Bupati Nagekeo, drg. Yohanes Don Bosco Do turut  membersihkan sampah bersama masyarakat di Kota Mbay (Jumat, 18/01/2018).

Gebrakan Gubernur NTT mungkin ditanggapi dengan pesimis  karena tidak akan merubah perilaku masyarakat secara signifikan. Mereka mungkin berpendapat cara ini tak berdampak signifikan. Begitupula dengan yang dilakukan Bupati Nagekeo, pihak tertentu mungkin menilai sebagai wujud pencintraan. Apapun pandangan orang, apa yang telah dilakukan oleh Gubernur NTT, Wakil Gubernur NTT dan Bupati Nagekeo adalah sebuah keteladanan. Mereka melakukan aksi untuk wajah daerahnya yang bersih, sehat dan asri. Dengan terjun langsung membersihkan sampah jauh lebih bermakna daripada sebuah narasi panjang. Satu aksi nyata menciptakan seribu keteladanan baru. Keteladanan harus menular. Dari gubernur menular ke bupati dan walikota, dari walikota/kota turun ke camat, OPD dan seterusnya, hingga level hirarkir pemerintah terendah RT/RW, serta masyarakat seluruhya.  Keteladanan adalah cara yang bijak daripada kata-kata tirani dan sarkatis. Mengutip ucapan Bupati Nagekeo, “Pengaruh suatu teladan yang baik jauh lebih bermanfaat  daripada suatu teguran tajam” (Mbayonline, 21/01/2018). Maka tepatlah pepatah Latin mengatakan educendi per exemplum – memimpin dengan contoh (baca: keteladanan).

Keluar dari zona darurat sampah

Berbagai upaya dapat dilakukan untuk keluar dari zona darurat sampah. Herman Seran dalam opininya, (Pos-Kupang.com, 26/02/2018), mengemukan empat langkah yang harus dilakukan, yakni pendampingan masyarakat tentang pengelolaan sampah rumah tangga; pemberian insentif  bagi rumah tangga yang mengelola sampah dengan baik dan sebaliknya memberikan sanksi kepada keluarga yang buruk penanganan limbah rumah tangganya; dan penyediaan fasilitas atau infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai.

Namun, segala upaya di atas menjadi tak berguna jika kesadaran masyarakat masih rendah. Kesadaran rendah bisa jadi disebabkan pengetahuan masyarakat tentang sampah  (jenis, dampak-dampak, dan manajemen sampah) yang terbatas. Ini dibuktikan dengan berbagai jenis limbah menumpuk pada satu tempat pembuangan sampah yang seharusnya dipilah terlebih dahulu berdasarkan jenis sampah (organik dan sampah non organik) sebelum dibuang.

Kesadaran dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang sampah kepada anak-anak sejak dini. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan literasi. Perbanyak buku-buku bertemakan tentang sampah. Baik buku teori maupun buku cerita yang dapat menarik minat anak-anak. Disiapkan pula berbagai video, animasi dan gambar karikatur yang memiliki pesan-pesan yang membangun kesadaran anak-anak tentang pentingnya menjaga dan merawat bumi dari sampah plastik.

Saat ini, NTT sedang hangat-hangatnya dengan gerakan literasi baik di sekolah maupun di kampung, kiranya topik sampah mendapat perhatian dan tempat dalam kegiatan berliterasi.  Anak-anak tak hanya dituntut membaca buku-buku tentang sampah pula diajarkan mereka bagi mengelola sampah dengan cara yang yang praktis dan kreatif seperti mengalihfungsikan  botol plastik menjadi pot bunga dan lain sebagainya.

Maka ajakan Gubernur NTT untuk memerangi sampah harus dimaknai sebagai ajakan untuk memerangi diri sendiri karena sampah itu bersumber dari manusia sendiri. Untuk itu, bangunlah kesadaran dalam diri anak-anak dengan memberikan pengetahuan dan pemahaman tantang sampah. Bila anak-anak memiliki pengetahuan yang cukup dan dilatih terus menerus maka mereka tak lagi membuang sampah di sembarang tempat. Perilaku ini menjadi karakter anak-anak dan terbawa terus hingga mereka tua nanti. ***

*) Artikel ini ditulis oleh Goris Babo, ASN Dinas Pendidikan Provinsi NTT.

0
author
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.