JANGAN MENGHINA GURUKU

127 views

JANGAN MENGHINA GURUKU LAGI

(Menyoal Lemahnya Budaya Literasi Guru)

 

Gusty Rikarno, S.Fil

Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

 

Di dua kesempatan terakhir, saya menulis tentang dua judul berbeda yakni “Nilai UN Rendah, Seharusnya Kita Resah” dan “Bunuh Saja Kambing Hitam Itu, Jangan Dicari Lagi”. Kedua judul tulisan ini sebenarnya berkaitan erat satu dengan yang lain. Ada fakta rendahnya nilai UN dan seharusnya ada cara/strategi yang dapat disebut sebagai solusi. Tema kali ini adalah tentang fakta lain rendahnya mutu pendidikan kita. Wajah pendidikan kita yang dilukai (melukai) hingga bernanah dan berbau busuk. Parahnya, luka itu sudah diketahui tetangga sebelah tetapi mereka berjuang diam untuk sebuah relasi dan nama baik sang pemilik luka. Guru adalah pemilik luka itu. Seorang yang pantas dan seharusnya layak disebut sosok yang digugu dan ditiru. Tetangga itu diam, bukan hanya wajah guru yang harus dijaga tetapi cara merawat optimisme anaknya yang masih di bangku pendidikan. Ia (tetangga) itu tahu, kalau luka yang sudah membusuk dari sang guru diketahui/terbongkar, anaknya bakal sedih, kecewa dan psimis. Ia memilih diam seribu bahasa.
Hasil UN kita rendah. Itu fakta. Lalu pertanyaannya, siapa yang bisa meningkatkan prestasi peserta didik? Jawabannya adalah guru. Tetapi apa yang diharapkan dari guru yang terluka, dilukai (melukai) ini? Siapa yang bisa menyembuhkan lukanya? Tetangganya atau dirinya sendiri? Saya (kami) dari Media Pendidkan Cakrawala NTT harus angkat bicara. Menyingkap sisi gelap (luka nanah) yang dialami guru sekaligus menawarkan obat penawar yang ampuh. Tidak mengapa, jika luka nanah dan berbau itu dibuka. Tidak perlu malu dan merasa terhina jika itu untuk kebaikan (kesembuhan). 

Sejak tahun 2015, dua tahun setelah Media Pendidikan Cakrawala NTT berdiri, seperti sang tetangga, saya mencium aroma tak sedap itu. Tentang luka bernanah dan dibiarkan lama tidak diobati sehingga berbau busuk merusak iklim taman pendidikan kita. Tidak semua tetapi ada guru yang memperoleh SK kenaikan pangkat tetapi tetapi belum menulis karya ilmiah semisal PTK atau jurnal. Kalaupun ada yang sudah mengaku tulis tetapi bukan ia sendiri yang tulis. Orang lain yang tulis atas namanya. Orang yang menulis inilah yang lazim disebut “Joki”. Ini fakta. Mari kita terbelalak tak percaya atau tersenyum sepakat. Tahu apa itu joki? Seorang yang berada di punggung kuda. Joki selalu mengadaikan adanya kuda. Dalam konteks persoalan ini, joki itu adalah ia (oknum) yang menulis karya ilmiah guru dan dengan demikian guru itu, (maaf) berarti kudanya tunggangannya. Sakitnya itu di sini. Saat guru sosok yang digugu dan ditiru itu disebut kuda tunggangan. Sedih, miris dan memalukan. Inilah luka itu. Bernanah dan sudah berbau busuk.
Di suatu kesempatan kegiatan Bimbingan Teknik (Bimtek) menulis yang diselenggarakan Media Pendidikan Cakrawala NTT, seorang guru senior datang memberiku salam. Ia mengaku, empat tahun lagi mau pensiun. Ada raut wajah bangga karena untuk sudah menduduki golongan pangkat IV/B. Hebat, minimal untuk konteks NTT. Itu pangkat tertinggi. Ia meneteng laptop tanpa membawa alat tulis (balpoit). Ketika diminta mengambil bolpoint, ia menjawab santai jika sudah beberapa bulan terakhir, lebih sering mengunakan laptop kalau mau menulis. Logikanya dapat. Sudah menempati golongan IV/B, artinya sudah professional. Balpoint malah tidak diperlukan lagi. Pilih yang praktis dan yang gampang saja. Pengalaman saya, biasanya untuk seorang penulis pemula sebaikknya jangan langsung mengetik di laptop. Pakai balpoint dan tulis di kertas. Pertimbanganya sederhana saja. Menulis itu menyusun pikiran agar tertata baik. Ada kata atau kalimat yang dicoret dan bisa juga dipakai kembali. Layaknya seorang pelukis yang membutuhkan sedikit energi untuk memadukan cat agat terlihat indah dan sempurna. Kalau tubuh tulisan sudah terbentuk dalam logika pikiran yang runut da logis baru diketik. 

Diam adalah caraku mengamati (menyelidiki) situasi pikiran dan perasaan orang. Di hadapan peserta yang ada, secara spontan kembali saya bertanya. “Bapa/Ibu guru yang terkasih, mohon ijin siapa yang sudah berada di golongan/pangkat IV/B”. Guru senior yang tidak membawa balpoint tiba-tiba ragu mengangkat tangan. Ruang kelas tiba-tiba sunyi dan mengundang rasa penasaran. Dengan wajah lesu, ia (guru yang berpangkat IV/B itu akhirnya mengangkat tangan. Pada saat yang sama ruang kelas terdengar riuh. Ada banyak suara sumbang yang tidak perlu. Beberapa yang lain bersandiwara dalam batuk buatan. “Joki …. Joki”, kata yang jelas terdengar.
Kegiatan bimtek sudah tiba di hari ketiga. Artinya, di saat acara penutupan kegiatan semua tulisan dikumpulkan oleh tim Cakrawala dan semuanya dibawa ke redaksi. Tradisi bimtek menulis Cakrawala NTT begitu. Hanya perlu waktu hampir empat puluh menit memaparkan teori, puluhan jam tersisa, dihabiskan untuk kegiatan praktik menulis. Tim tutor akan berjalan dari meja ke meja, menyapa dan mendampingi peserta yang kesulitan memulai kata pertama, kehilangan ide atau mengecek logika tulisannya. Cara pendampingan ini menjadi sangat efekif karena guru pada prinsipnya butuh pendampingan menulis. Bukan seminar menulis. Dari pengalaman kami (Cakrawala NTT) sejak tahun 2013, dalam ruang bimtek menulis sesungguhnya ada dua kelompok guru. Kelompok pertama adalah mereka (guru) yang sudah menulis. Jumlah mereka tidak banyak. Berkisar 10-15 % dari peserta yang hadir. Sesungguhnya, mereka sudah menulis tetapi kewalahan ke mana tulisannya dipublikasikan. Sementara itu, kelompok kedua adalah peserta yang mau menulis tetapi harus mulai dari mana. Biasanya kelompok ini berjumlah banyak. Kelompok terakhir inilah yang perlu pendampingan lebih. Dengan memiliki majalah pendidikan dan jurnal pendidikan ber-ISSN tingkat provinsi, di hari ketiga tim Cakrawala NTT langsung memboyong karya tulis para guru ini ke redaksi dan siap mempublikasikannya. 

Mari kita kembali, pada cerita awal tentang bung “joki” itu. Dia (yang sudah naik pangkat) ini, hingga di hari ketiga belum menghasilkan satu jenis tulisan. Ia memilih keluar-masuk kelas dan sesekali mengalihkan perhatian pemateri dengan bercerita lamanya mengabdi di sekolah tersebut. Ia mengaku tetap bersemangat walau beberapa tahun lagi pensiun. Saya menatapnya bangga. Bukanlah saya yang mudah terkecoh dengan hal-hal begitu. Saya mulai bertanya santai tetapi serius. “Tulisan bapa mana. Saya belum sempat lihat dari hari pertama karena bapa selalu “sibuk”. Coba buka laptop, saya lihat”. Pertanyaan ini membuatnya terdiam dan akhirnya berkata jujur. Sesungguhnya, PTK-nya ditulis oleh seorang oknum dosen dari sebuah kampus. Ia terima jadi. Artinya oknum dosen itu (bung joki) menulis dan muat di jurnal kampusnya. Sesuai kesepakatan ia harus membayar hingga tiga bahkan empat juta untuk setiap judul PTK. Sedih, kecewa dan marah. Guruku dihina dengan cara yang sangat keji.

……………………………………………………………….

Inilah cerita kita. “wajah bopeng” dunia pendidikan kita. Jika faktanya mutu pendidikan kita saya sangat rendah, maka yakini saja “luka” ini adalah salah satu penyebabnya. Budaya literasi di kalangan guru sangat rendah. Padahal, bicara mutu/kualitas pendidikan, guru adalah garda terdepan. Panglima perang meretas kebodohan generasi bangsa. Guru dituntut untuk professional karena alasan ini. Mari lihat daftar hadir di perpustakaan. Berapa banyak guru yang datang membaca buku. Mari lihat dinding status facebook guru-guru kita. Tema politik, penjualan produk online dan foto diri lebih banyak terlihat. 

Pada detik ini, banyak guru dihina. Siapa yang yang menghina guru? Jawabannya adalah guru itu sendiri. Guru menghina dirinya saat budaya baca-tulis yang menjadi tugas pokoknya diabaikan. Si “bung joki” tidak akan menghina guru jika guru itu sendiri tidak mau dihina dan terhina. Mengembalikan wibawa guru dan menyembuhkan luka bernanah dan berbau busuk itu, tidak ada cara lain. Hidupkan budaya literasi di kalangan guru. Dalam konteks gerakkan literasi, guru seharusnya menjadi garda (aktor) utama terdepan. Para peggiat literasi termasuk Media Pendidikan Cakrawala NTT adalah stakeholders yang mengambil peran pendukung. Membangun budaya literasi di kalangan guru tidak serumit mengakarkan gerakkan literasi di kalangan peserta didik. Caranya? Mulailah dengan hal sederhana. Sebagai contoh, hiasi dinding facebook kita (guru) dengan tulisan berkelas sekelas diri kita. Tunjukan bahwa kita adalah seorang guru dari status yang kita tulis. Hidupkan majalah Dinding (Mading) guru. Sepengetahuan saya, hanya SMA Seminari Kisol-Manggarai Timur yang memiliki Mading guru. Tidak heran, jika kualitas pendidikan di lembaga calon Imam ini sangat bagus. Tulisan ini, tidak berarti ikut nimbrung menghina guru. Tidak. Ini cerita kita dan ini luka kita. Hanya kita sendiri yang bisa menyembuhkan luka kita. Bukan orang lain apalagi menuduh pemerintah telah menetapkan regulasi yang “melukai” kita. Kita sudah sepakat. Kambing hitam itu dibunuh. Jangan dicari lagi. Mari kita bergerak bersama untuk henat semua.

 

Salam Cakrawala, salam Literasi

0
author
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.